Rabu, 23 Desember 2015




Sri Maharaja Indra dikenal sebagai Ninik Yang tertua di Hulu Kampar.Namun seberapa Tua nya, baik Tambo Minangkabau maupun sumber-sumber lokal tidak dapat menjelaskannya. Untuk mencari tahu hal ini, saya mengunjungi Thailand,Pattani dan Kelantan di awal tahun 2011. Disitu saya mendapat berbagai bukti yang jelas dari beberapa catatan kuno Kuil Ayuthaya dan sumber akurat Dari catatan keluarga Putri Raja Anis, yang di claim sebagai waris  Puteri Saadong ke VII, yang mendirikan negeri Pattani.
Beliau dalam usia yang masih sangat muda, telah melawat 50 negara di dunia, untuk mencari tahu kisah awal nenek moyang di negerinya. Untuk memastikan kebenaran sumber Raja Anis, saya juga telah mengundang beliau untuk datang ke Tanah Minang dalam tahun yang sama dengan membawa beberapa orang Bikhsu Senior Kuil Ayuthaya. Dari hasil kunjungan serupa itu, kami berhasil mendapatkan bukti yang jelas hubungkaitnya antara peninggalan kuno di Minangkabau dengan berbagai peninggalan kuno yang ada di Kuil Ayuthaya, Pattani, dan milik Putri Saadong termasuk  hubungannya dengan negeri  Melaka .Terkait juga dengan kaitan geneologis antara Datuk Mahkota dari Minangkabau dengan Tengku Mahkota di negeri Semenanjung Melaya dalam di awal abad ke XVI, tepatnya tahun 1511.
Kunjungan saya ke Raja Muda Goa, Karaeng Andi Kumala Hijau dalam tahun 2012  berikut penapakan peninggalan makam Datuk Mahkota di dalam bekas Benteng Sanro Bone bertarikh 1580 dan Makam Lolo Bayo bertarikh 1610, makin memperjelas hubungan ke Mbonang di Minangkabau.
Saya terpaksa ber gerilya menempuh Lika liku kunjungan demikian karena tidak ada bantuan dana apapun dari pihak Pemerintah dan ketiadaan sponsor yang memadai,karena hal yang demikian  mestilah melalui rintangan dan perilaku yang beragam.Sangat banyak suara sumbang dan sinisme yang diarahkan agar pembodohan sejarah yang dilakukan penjajah di negeri ini tak terungkap. Disamping tentu saja sikap yang melindungi berbagai kepentingan di dalamnya.Namun demikian, bukti-bukti yang pagan di alam terbuka, tidak dapat ditutupi dengan berbagai opini yang mungkin dilakukan kemudian.
Seperti telah diketahui, bahwa Seri Maharaja Indra adalah anak Chandra Banhu, yang masa kecilnya dititipkan di Chedi Ayuthaya pada masa ia melakukan perjalanan dari Shih Lih Foh Cih ke Srilangka. Dari catatan keluarga Seri Ratu Putri Saadong dapat saya ketahui mengapa ia  mesti ke Srilangka. Bahwa Chandra Banhu adalah Putra Banhu yang mendirikan Dinasti Syailendra yang mendirikan Sriwijaya pada tahun 752 M. Banhu berasal dari Indo China, sekarang Thailan dan Kambodia. Dari situlah bermula lembang kekuasaan “ BUNGA SETANGKAI” yang sekarang masih hidup dan membekas dalam sistim adat yang ada di Mbonang dan Masyarakat Kabupaten 50 kota, Minangkabau.
Pada masa Era kerajaan Mataram Kuno, Dinasti Syailendra cukup Dominan apabila di bandingkan dengan Dinasti Sanjaya. Ketika itu Dinasti Syailendra yang bercorak Budha Mahayana, di pimpin Raja Indra. ( tahun 782-812) Raja Indra yang dimaksud, adalah Banhu yang mempunyai sifat-sifat seperti Dewa ( Shywa). Di dalam sejarah kepemimpinan Raja Indra ini disebut Raja Indra Varman. Syailendra mengadakan perniagaan ke Shih lih foh cih, Seorang Putra Raja Indra, Samara Thungga dinikahkan dengan dewi Tara seorang Puteri dari Shih lih Foh cih. Kemudian dalam tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla ( Kambodia) mereka sempat berkuasa di Kambodia beberapa tahun di sana,untuk kemudian kembali ke Mataram. Pada masa pemerintahan Samaratungga Chandi Borobudur dibangun sampai selesai tahun 812-833 M. Ketika itu, para pengikut Sri Indravarman telah melakukan perniagaan sampai ke pedalaman Sumatera, dengan bukti membawa aksara yang sama dan di temukan di sebuah desa di daerah Taeh ( Kabupaten 50 kota) yang di kenal dengan BOROBONO. Nama Taeh, diambil dari sebuah nama Bukit di Thailand Selatan, yakni Pattani. Yakni Bukit Tha. Dalam bahasa Thay, adalah. Tha = Bukit. Ih = Emas , dengan begitu yang di maksud Thaih, adalah Bukit Emas. Dengan penamaan Bukit Emas pada negeri Taeh di 50 kota, secara implisit dapat di maklumi, bahwa perniagaan yang berlangsung di Taeh ( 50 kota) adalah emas dan sejenisnya. Yang ketika itu, antara Taeh dan Simelenggang adalah dua kawasan yang bersempadan dan merupakan wilayah Pelabuhan sungai di pedalaman Sumatera terletak di hulu sungai Kampar.
Namun begitu, pertikaian kuasa perniagaan ke wilayah Sumatera pun terjadi. Ketika Rakai Pikatan seorang putra Raja Sanna dari Dinasti Sanjaya menikah dengan Pramodha Wardhani seorang putri Samarathungga  dari Dinasti Syailendra tahun 833 M dan selanjutnya Rakai Pikatan menjadi Pangeran di Mataram sampai tahun 856 M. Sejak itulah, pengaruh Rakai Pikatan yang beragama Hindu mulai dominan di Mataram menggantikan pengaruh Syailendra yang bercorak Budha. Rakai Pikatan bahkan mendepak seorang anak dari Samaratungga dengan Dewi Tara dalam tahun 850M di tandai larinya Bala Putra Dewa ke Shih Lih Foh Cih, ketika itu telah bernama Sriwijaya. Pelarian ini, merupakan bentuk bahwa Samaratungga dewa, pulang kembali ke kampung asal ibunya, Dewi Tara.
Chandra Banhu adalah anak Bala Putra Dewa dengan istrinya Dewi Tara, memperkuat kekuasaan ayah ibunya di sriwijaya dengan memasuki wilayah pedalaman sumatera sampai ke Semenanjung Melaya. Ketika Mpu Sendok, memindahkan kekuasaan Mataram ke kerajaan Medang  di dalam tahun 928M,ia meneruskan kekuasaannya negeri-negeri Kedah, Perak dan Teluk Benggala. Di dalam perjalanannya menuju Srilangka, ia menitikan anaknya ke Chedi Ayuthaya. Kepada seorang Biksu disana ia meninggalkan pesan, jika anaknya sudah besar, dikembalikan ke Sumatera untuk berkuasa di sana. Ada enam periode penggantian kekuasaan di sriwijaya selama 80 Tahun kemudian,sampai ke Masa Chandra Banhu yang dijuluki Raja Sri Indravarman ke VI, yakni tahun 1030 diketahui bahwa Raja Indra, anak  dari Chandra Banhu telah mendirikan sebuah kawasan yang di sebut Indra Giri ( Sungai Indra) yang meneruskan kuasanya sampai ke pedalaman Sumatera di Hulu Kampar.Salah seorang keturunan  Raja Indra,dalam tahun 1080.M bernama Indra Jelita ( Nama Aslinya adalah.......) telah berkawin dengan Sang Sapurba dan mendirikan negeri di Sungai Kayu Batarok delapan batu, di lereng Gunung Merapi.Minangkabau.Indra Jelita dijuluki, Bundo Kanduang sementara Sang Sapurba digelari Sri Maharaja, dalam sejarah kuno Minangkabau disebut Datuk Siri Maharajo yang mendirikan balai tertua di Mungkal, kabupaten 50 kota. Chandra Banhu meninggal di Teluk Benggala, dalam perjalanan kembali ke Kedah, dan namanya di abadikan di kota itu.Sebagai Nakon Sri Thamarat. Sri dalam bahasa Thai, artinya Raja. Tammarat = Dharma = Aturan Yang benar.
Bagaimanapun juga, sejak chedi Perambanan sebagai pusat kekuatan Hindu terbesar di Asia Tenggara didirikan oleh Raja Tulodong dalam tahun 910, dapat menyebabkan kekuasaan dan Pengaruh Agama Budha menjadi makin menyempit, ditandai dengan dipindahkannya pusat kekuasan kerajaan Mataram ke kerajaan Medang pada tahun 928 Oleh Mpu Sendok. Permpindahan ini di duga untuk menghindari serangan kembali dari kekuatan Raja-Raja Syailendra yang kembali menguat di Sriwijaya dan semenanjung Melaya. Kekuatan di maksud, karena Raja Indra telah menjalin hubungan wilayah perniagaan dengan Lobu Tua dekat Barus di sekitar tahun 928-950 M.Perniagaan mana telah berlangsung dengan di dukung oleh saudagar-saudagar Timur Tengah yang Mencari Khamper. Sementara jalur perniagaan antara selat Melaka telah dikuasai orang-orang sriwijaya yang berhubungan erat Sumatera melalui jalur perniagaan muara Kampar, yang disebut Kampung DOMO. Perkembangan yang terjadi di Hulu Kampar di tandai dengan Batu Empat Ninik, Perkembangan negeri-negeri selanjutnya berada dalam rentang kendali empat Ninik yang asal. Sumatera yang disebut kampung Domo telah dipimpin seorang penghulu yang disebut RAJO DI BALAI. Di bawah rentang kendali Ninik Rajo di Balai ini, terbentuklah sistim Andiko yang 44 Kamar.
Salah satu pelabuhan kuno yang terdapat di semenanjung Melaya dan berhubungan dengan Kampar ketika itu adalah Kalah, tempat ini adalah satu kawasan perniagaan yang besar di tahun 860-910 M.Ketika itu Sriwijaya berkuasa di sana termasuk Thailand selatan (ketika ini Pattani), hal ini di buktikan dengan berdirinya sebuah wihara di Nalanda teluk Benggala, yang serupa dan sebangun dengan chedi Dharawati di Thailand. Kelompok orang-orang India, yang kemudian di sebut Mandala Holling ( Mandailing) sebelumnya adalah berasal dari kelompok orang-orang Tamil, dan Tabralingga yang dipimpin Raja Kalingga, juga berasal dari kelompok Raja Indra.  Perhubungan antara Kelompok Indra ini dapat dibuktikan melalui peninggalan Prasasti Tamil di Asia Tenggara, terdapat beberapa buah yang terdapat di pantai Indo China, diantaranya di Propinsi Krabi dan satu di Nakon Sri Tammarat dan satu lagi di Barus.
Dengan demikian, tidak dapat di pertikaikan bahwa antara masyarakat pendiri Mandala Holling, yang sebelumnya merupakan imigran terakhir dari Lobu Tua dari Barus, berakhir di Hulu Kampar Mbonang. Sri Tammarat, nama kota di Teluk Benggala, adalah berasal dari nama Chandra Banhu, yani Raja Indra Varman ke VI.Maka kelompok Prasasti Tamil diatas yang ditemukan pihak archeolog, merupakan bukti bahwa jalur perniagaan di selat Melaka,Srilangka dan India yang berjaya dalam Abad ke XI-XII, telah dikuasai oleh Kelompok Raja Indra dan pedagang India dari Kerala.
Telah kita ketahui, bawa dalam tahun 1030-1080M anak cucu Indravarman ke VI telah berkembang di Hulu Kampar, mereka telah mendirikan koloni sendiri yang disebut Balai Putuih, Anding.Di bawah pimpinan seorang penghulub tertua, disebut Ninik Datuk Maharaja Indra. Yakni sebuah kampong yang terletak di tepi Sungai Sinamar, Sementara itu Kaum emigran yang berasal dari pimpinan Sangsapurba, bergelar Datuk Siri Maharajo telah membina perkampongan di sekitarnya, bernama Balai Nan tuo, Mungkal. Perhubungan dan perkawinan Silang antara kedua kawasan ini, ditambah kaum perniagaan yang datang dari Pantai Barat  Indo China ( Pattani) telah melahirkan satu perkampungan baru, sebuah pelabuhan sungai yakni Si Melenggang. Di kampung ini, untuk pertama kalinya, karena dia merupakan sebuah pelabuhan sungai, tempat ini di pimpin oleh seorang penghulu, yang pada awalnya di sebut Datuk Orang Kaya Besar , yakni seorang yang menguasai perniagaan setingkat Syah Bandar.  Pemekaran wilayah antara tahun 1030-1050 M di hulu Kampar, sangat beralasan karena pada ketika itu, Kerajaan Chola yang mencapai puncaknya dimasa pemerintahan Rayendra meluaskan kuasanya ke Sriwijaya. Ia membawa perubahan sangat besar sampai wilayah Sri Langka. Dalam catatan sejarah dapat diketahui, bahwa Chola mempunyai hubungan dagang dengan Ayyavole sebuah perkumpulan Dagang yang terdapat di Barus, yang jelas di bawah pengaruh raja-raja Syailendra dari Bangsa Tamil ( Keling ).sumber *Abraham, 1988.hal.86-92. Dan K.A Nilakajnta Sastri,”The Colas” Madras univ.of Madras.1984.hal.194-244.
Salah satu pemekaran wilayah itu yang diketahui dalam sejarah Lokal Minangkabau, adalah perkawinan antara anak Raja Chola dengan anak raja Indra yang datang dari utara bernama Indra Jelita, pada tahun 1050 telah mendirikan sebuah negeri baru yang bernama Sungai Tarab.
Dikatakan, Bahwa Pengaruh  Raja Indra juga memasuki wilayah sumatera  Utara,di Lobu Tua.Dengan bukti bahwa pernah ditemukan sebuah Bodi Satwa yang jelas lebih bisa di anut di srilangka dari pada warga Tamil-India ( Orang Keling) ketika itu.Sebuah bukti lain sebuah gelang kaki Indra jelita tertinggal srilangka, yang sampai sekarang tersimpan dalam salah satu museum di sana. Namun demikian, sifat tertutup orang Tamil  terhadap pendatang yang mencari sumber-sumber emas sesudahnya menyebabkan para imigran dari bangsa lain tidak mengetahui adanya sumber Emas di wilayah pantai Barat Sumatera dekat Rejang, yakni wilayah yang dikuasai Raja Indra, dan disebut Kota Indra ( Indra Pura). Kecuali emas, maka perniagaan kekayaan alam yang lain telah masuk ke bagian pedalaman Sumatera melalui Muara Kampar, Patapahan, Koto Lamo dan terus ke Hulunya, sampai di Simelenggang dan Sitanang Muaro lakin, ketika itu Sitanang Muaro Lakin merupakan tempat Transit dan pengumpulan hasil alam dari pedalaman Minangkabau yang akan di perdagangkan melalui  Selat Melaka. Wilayah antara Simelenggang dan Mbonang, terdapat anak sungai yang menghubungkan kedua negeri ini dengan lokasi pencarian emas Manggani.Wilayah ini terhubung langsung ke batas akhir kawasan kekuasaan Mandala Holing (Orang Keling) di Bukit Barisan.
Oleh Karena itu, tidak semua orang dapat berleluasa memasuki wilayah Hulu Kampar, setelah terbentuknya Balai Putuih, Balai Saruang,  di Anding di bawah rentang kendali Datuk Maharaja Indra. Wilayah Mungkal di bawah rentang kendali Balai Datuk Siri Maharaja. Balai Batu, di bawah rentang kendali  Datuk Bendahara di Mahat. Sementara untuk menjalankan undang-undang adat, yang terang berdasarkan hukum-hukum Budha Mahayana, di bawah rentang kendali Datuk Rajo Di Balai dengan 44 andiko di wilayahnya. Sebagai pengawal terlaksananya sistim adat yang demikian, kedua Ninik yang awal yakni Datuk Maharaja Indra dan Datuk Siri Maharaja telah mengangkat seorang penghulu yang bergelar Datuk Raja Lelo, berkedudukan di Kampong Dalam, penago-Mbonang. Sekaligus sebagai penanggung jawab Balai adat nan panjang Mbonang sejak dahulu sampai sekarang telah berlaku turun temurun menurut Sako Adat Gadang Manyimpang.
Perhubungan antara pedalaman sumatera ( Minangkabau) dengan Muara Sungai Kampar dalam dunia perniagaan tradisional telah di atur menurut tatalaksana adat. Ketiga Kampong yang asal, yakni Anding, Mungkal, dan Simelenggang yang akan keluar atau akan memasuki wilayah pedalaman akan di pandu oleh seorang penghulu.
Setiap ekspedisi dari pedalaman Minangkabau yang melalui sungai Sinamar, Lintau, dan akan berhubung ke Kampar di wilayah Talago Undang, Muara Takus, dan akan meliwati sungai dan hutan belantara berkumpul dahulu di Kaki gunung bungsu. Tempat itu disebut Kampong Tiga Batu , maknanya adalah pertemuan ke tiga kampong. Ditempat itu dipimpin seorang Penghulu, Datuk Laksamana namanya. Beliau lah yang mengenal dengan baik dan bertanggung jawab untuk keselamatan ekspedisi antara pedalaman sumatera sampai ke Kampong Domo, Wilayah Muara Takus dan Muara Sungai Kampar untuk kemudian berlepas mengharungi  laut selat Melaka.
Sementara itu, pengembangan Wilayah Adat telah berkembang di Muara Takus sampai antara tahun 1223M sampai masuknya pengaruh Hindu yang dibawa oleh Raja Sri Aditya. Pengaruh ini telah berlansung dari tahun 1223M  sampai tahun 1250 M dengan pengembangan negeri-negeri bercorak Hindu Budha, seperti Taeh,Blubuh, Guguk,dan Godam..dimana sistim Hindu-Budha di jalankan sampai masuknya pengaruh Hindu Bhairawa  masa kedatangan Adityawarman tahun 1331.M.
Pada ketika itu, Perniagaan dari Sumatera telah berlangsung seprti telah di uraikan. Bila diperkirakan dalam tahun 1050 M Sang Sebelum menikah kembali dengan Cheti Bilang Pandai, seorang saudagar kaya dari Puar Datar, bisa dimaklumi bahwa Sutan Balun sudah menjadi seorang Pemuda yang diperkirakan berumur 30 tahunan dalam tahun 1080. Diantara rentang waktu yang demikian, antara 1080 sampai tahun 1250 M, telah terjadi pengembangan wilayah adat yang ketika itu bernama Pulau Paco.Perkiraan ini diperkuat dengan temuan batu megalith di Pariangan yang bertarikh tahun 1250, Ketika itu diketahui Datuk Perpateh Nan sebatang telah meninggal dunia  di kawasan Solok.
Ada rentang waktu antara tahun 1250 sampai 1275M yakni selama 25 tahun perilaku sejarah bertumpu pada masa ekspedisi Pamalayou di sekitar Batang Hari. Masuknya pengaruh Majapahit dibawah pimpinan Kebo Anabrang ke pedalaman Minangkabau, sampai masuknya pengaruh Adityawarman di Suravaca ( Sruaso ) pada tahun 1331M dalam konsep pencaraharian emas di kampong Sungai emas.Wilayah Saruaso. Kampong ini sebelumnya didirikan oleh Indo Jolito.Di tempat itu Adityawarman menggelar dirinya sebagai Yang Dipertuan Suravaca. Enam tahun kemudian Adityawarman menggelar dirinya sebagai SRIMAHARAJA DIRAJA.Sebagai pengganti gelar yang dipegang oleh Suami Indojolito, yakni Datuk Srimaharaja.( Lihat Prasasti Bukit Bergombak II).
Dengan demikian dapatlah di maklumi bahwa kedatangan Adityawarman ke pedalaman sumatera yang ketika itu disebut juga pulau Perca, adalah merupakan perebutan wilayah sumber emas di Sungai Emas,wilayah Bukit bergombak, Tanah Datar (saat ini) sekaligus pergantian pengaruh kepercayaan antara penganut Budha Mahayana kepada Pengikut Adityawarman yang menganut  Hindu Bhairawa. Pemahaman ini diperkuat dengan sebuah bukti sebuah prasasti yang di sebut Batu Banda Bapahek, dinegeri Saruaso yang masih ada sampai saat ini. Disitu Adityawarman menyebut bahwa dia mempunyai sebagian rakyat dari India. Bila hanya sebagian rakyatnya yang dari India, tentu saja bagian dari rakyatnya yang lain adalah masyarakat yang sudah ada, yakni wilayah negeri yang telah didirikan Indo Jolito yang ketika itu dibawah kepemimpinan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpateh Nan sebatang.
Siapakah Datuk Perpateh Nan sebatang  dan Datuk Ketumanggungan di maksud? Karena Pada ketika inilah Kisah Tambo Minangkabau bermula, bahwa pada tahun 1337 ketika Adityawarman sampai di Suravaca, maka Datuk Katumanggungan, yang merupakan anak tertua dari Indo Jolito telah tiada.Dalam beberapa sumber diketahui bahwa orang-orang Keling yang berbasis dari Mandala Holing telah menghilang dan keluar dari Pulau Perca  di akhir abad ke XI melalui wilayah pencarian emas melalui wilayah Mbonang. Sedangkan Indo Jolito telah kembali ke tempat ayahnya, Indo Jati dalam kawasan kerajaan Indro Puro.
Saya katakan demikian, karena apabila Katumanggungan lahir dalam antara tahun 1050, maka usia Datuk katumanggungan Tidak mungkin sampai 287 tahun lamanya untuk mencapai tahun 1337M dan serta merta mengawinkan seorang anaknya dengan adityawarman. Maka perlu dipertanyakan  Apakah benar Kisah Tambo yang menyatakan bahwa Adityawarman menjadi seorang Semenda? Masih perlu di Buktikan.  Sesungguhnya Adityawarman hanyalah seorang Semenda yang di Rajakan dalam keluarga yang mungkin berasal dari  Keturunan  Datuk Ketumanggungan saja, yakni sebagai suami dari seorang perempuan  bernama Puteri Jamilan.( Wallahu alam )
                                                                                                                                               

Sementara itu, perlu juga diketahui bahwa dalam tahun 1068 Sriwijaya diserang kembali oleh Kerajaan Colamandala dari India.Raja Sri Sanggamawijaya  Tungga Dewa di tawan.Jalur perniagaan dari Sriwijaya ke Semenanjung Malaya menjadi hancur.Dua puluh Tahun kemudian, dalam tahun 1088, kerajaan Melayu Jambi yang semula adalah kerajaan kecil yang dahulunya naungan Sriwijaya, menjadi berbalik menjadikan Sriwijaya sebagai daerah Taklukannya. Kerajaan Melayu di jambi berkuasa selama 2 abad lamanya.Dengan itu, jalur perniagaan dari Sriwijaya ke Selat Melaka menjadi berubah, antara Indra Giri ( Sungai Indra) dan Muara Kampar menuju selat Melaka.
Akibat munculnya kekuatan kerajaan Melayu di Jambi, sementara di wilayah sepanjang aliran Batang Kampar yang dikuasai oleh pengikut Indravarman telah membentuk sistim adat yang berpusat di Balai Putus Anding dan Balai Nan tuo Mungkal , juga mengalami penyempurnaan.Setiap ekspedisi perdagangan yang akan menempuh jalur perniagaan Selat Melaka dipimpin oleh seorang Penghulu yang disebut Datuk Laksamana ( Datuk Ulak ) yang berkedudukan di Tiga Batu ( Pertemuan tiga Negari). Yang pada gilirannya ketiga asal nama negari yang menjadi tempat transit di Minangkabau menjadi nama suku di Semenanjung Malaya, yakni Melaka. Suku-suku itu adalah suku Simelenggang, Suku Mungkal dan suku Tiga Batu.

Anthonyswan.Pi.Ar
Trah keturunan Raja Indravarman ke VI
                                                                                                              Gelar Dato Paduka Rangkayo Besar Bertuah
                                                                                                                 Monti Adat Datuk Patih Besar-Balai Nan       
Panjang,Mbonang.Hulu Kampar.Minangkabau.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar